Transformasi Pesantren dari "Ndeso" Menjadi Moderen

 Pondok Pesantren merupakan sistem pendidikan asli kepulauan Nusantara, wabil khusus Jawa.  Model pendidikan yang dikembangkan mempunyai ciri khas. Jika di pusat-pusat peradaban, tidak terkecuali peradaban Islam pendidikan biasanya banyak berkembang di perkotaan, tapi di jawa pendidikan Islam banyak berkembang di pedesaan.

Pondok-pondok tua sebagai rujukan awal pondok pesantren tidak berada di pusat peradaban Islam di Jawa seperti di Yogja atau Solo, tapi berada di pinggiran seperti Ponorogo, Magetan atau Pacitan. Kita bisa sebut nama-nama pesantren tua seperti Tegalsari dan Tremas.

Upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mengambang pendidikan demi untuk memenuhi kebutuhan mereka akan tenaga terdidik sesuai dengan kepentingan mereka direspon oleh ulama-ulama jawa dengan perlawanan. Mereka beranggapan bahwa pendidikan yang dikembangkan oleh Belanda adalah merupakan pembaratan bagi penduduk pribumi.

Posisi pondo pesantren yang berada di kawasan pedalaman dan pedesaan serta upaya mereka untuk menandingi pendidikan moderen Belanda membuat pesantren identik dengan kata terbelakang dan ndeso.

Itu dulu. Sekarang pesantren sudah banyak yang beradaptasi dengan kemajuna jaman. Pesantren sudah melakukan modernisasi dan menjadi moderen, tidak kalah dengan lembaga dengan lembaga pendidikan moaderen lainnya.

Transformasi Pesantren dari 'ndeso' menjadi moaderen ini tentu penuh dengan dinamika. Dan juga tidak semua pondok pesantren yang langsung melakan moderenisasi. Ada yang sedari awal sudah melakukan medernisasi, ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan lambat, bahkan mungkin sampai sekarang ada yang belum melakukan modernisasi.

Modernisasi ini terjadi beberapa sisi dari pesantren. Yang terutama tentu adalah sistem pendidikan atau pengajarannya. Pendidikan dan mengajaran di pesantren menggunakan cara sorogan dan bandongan dengan segala hal yang terkait dengannya. Sistem ini juga jenjangnya tidak ditentukan secara pasti waktunya. Kenaikan tahapan dalam sistem tergantung pada kemampuan siswa atau santri.

Beda dengan pendidikan moderen yang menerapkan penjejangan dengan waktu yang jelas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Santri di Pondok Moderen

Santri Proletar