Santri Proletar

 Santri proletar? Kok bisa? Bukannya proletar itu istilah untuk kamu buruh yang biasa dipakai oleh kelompok komunis, yang kalau di Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berseteru dengan kelompok santri?

Bagai banyak orang mungkin terdengar aneh ketika menggabungkan istilah "santri" dengan "proletar." Ini tidak lepas dari dinamika kebangsaan sebelum era kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan sampai dengan tahun 60-an. Kaum santri dan pengusung isitilah proletar, yaitu PKI pernah terlibat perseteruan yang tajam dan berdarah-darah.

Ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya yang dikomandoi oleh Muso kamu santri banyak yang menjadi korban. Bahkan ada kiai yang menjadi korban, baik dibunuh maupun yang hilang tidak tau kemana.

Begitu juga dengan dinamika di era demokrasi terpimpin yang secara tidak langsung melibatkan PKI dan kelompok santri.

Pertentangan dan perseteruan antara kaum santri dan PKI, atau yang dianggap atau menganggap diri penerus PKI diwariskan dari generasi ke generasi. Perseteruan tersebut sering membunuh akal sehat, misalnya pelarangan diskusi tentang PKI. Bagaimana memahami PKI kalau diskusi tentang PKI dilarang?

Baca juga: Transformasi Pesantren dari "Ndeso" Menjadi Moderen

Tapi di salah pondok di Ponorogo istilah proletar digunakan oleh para santri. Di antara para santri ada santri yang dikelompokkan sebagai santri proletar. Apakah santri proletar ini adalah santri yang dianggap terkait dengan PKI? Ataukah mereka adalah santri yang gandrung akan pemikiran, kiri, marxisme atau komunisme?

Ternyata tidak ada kaitan sama sekali. Ini lebih terkait dengan makna dari proletar itu sendiri. Istilah proletar dengan makna yang terkandung di dalamnya kemudian digunakan secara serampangan untuk menyebut kelompok tertentu dari santri. 

Proletar adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok masyarakat yang tidak mempunyai alat produksi dan hanya bisa menjual tenaganya untuk mendapatkan upah. Lawan dari proletar adalah Kapitalis, yaitu kelompok yang menguasai modal dan alat produksi yang memperkejakan kaum proletar.

Inilah yang kemudian saya sebut isitlah proletar digunakan secara serampangan di pondok tersebut. Kelompok santri yang waktunya menjadi pengurus dan mendapatkan posisi tertentu tapi mereka tidak mendapatkan kesempatan tersebut disebut dengan santri proletar. Alias santri yang tidak punya kerjaan atau jabatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pesantren dari "Ndeso" Menjadi Moderen

Menjadi Santri di Pondok Moderen