Menjadi Santri di Pondok Moderen

 Dulunya pondok identik dengan tradisionalitasnya. Tradisional itu baik dari segi fasilitas, cara berpenampilan, dan yang paling penting adalah tradisional dari segi sistem pengajaran dan materi yang diajarkan. Materi yang diajarkan diwariskan secara tradisional dari generasi ke generasi.

Tradisional dalam pengertian mewarisi tradisi yang diwariskan dan diajarkan secara turun temurun menjadikan tradisional di sini tidak identik dengan kekolotan dan ketertinggalan, karena tradisi tidak mesti berarti tertinggal.

Karena pesantren mewarisi tradisi yang ada maka mereka pun di satu sisi cenderung melawan perubahan atau pembaharuan. Apalagi pembaharuan yang tersebut dilakukan oleh pendatang dengan keyakinan yang berbeda. Perubahan atau modernisasi dilakukan oleh pemerintah hindia belanda yang dianggap sebagai penjajah dan berasal dari barat. Maka modernisasi menjadi identik dengan pembelandaan atau pembaratan.

Belum lagi pembaratan ini dilakukan oleh musuh yang berbeda keyakinan yang dianggap kafir. Maka mensetujui sistem ini sama saja dengan menyutuji sistem kafir.

Baca juga: Transformasi Pesantren dari "Ndeso" Menjadi Moderen

Dari sini ekspresi perlawanan adalah mengkafirkan apa yang dilakukan oleh orang belanda. Maka memakai dasi, celana, jas itu merupakan bentuk sesuatu yang kafir. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka bagian dari mereka. Barang siapa yang menyerupai orang belanda yang kafir maka bagian kekafiran itu sendiri.

Kalau pendapat tersebut dipahami dalam konteks keyakinan tentu terlihat naif. Tapi jika hal tersebut dipahami dalam konteks pertarungan antar budaya dan bagian dari strategi perlawanan maka hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar, bahkan dapat dibnarkan.

Di satu sisi ada kelompok yang menerima sistem moderen yang dianggap sebagai barat dan kafir ini. Kelompok ini juga menggunakan atribut-atribut yang menyerupai orang belanda: memakai celana, dasi dan jas. Kelompok ini kemudian disebut dengan moderen. Dan pondok yang seperti ini disebut dengan pondok moaderen.

Dan saya kebetulan pernah menjadi santri di pondo moaderen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformasi Pesantren dari "Ndeso" Menjadi Moderen

Santri Proletar